Minggu, 4 Desember 2022 – MOTyB
Hari Minggu adalah hari keluarga. Kami menghabiskannya dengan menikmati kebersamaan satu sama lain. Sering kali hari Minggu diisi dengan kunjungan ke keluarga besar atau kami menghabiskannya bertiga saja. Bagi saya, hal ini penting karena selama Senin-Sabtu kami akan banyak menghabiskan waktu dengan kesibukan masing-masing. Pekerjaan dan sekolah yang menjadi bagian dari rutinitas akan membuat kuantitas waktu bersama menjadi berkurang. Oleh karena itu, bersama-sama sebagai keluarga sebelum memulai minggu adalah hal yang penting.
Sebagai Ibu yang memutuskan mengambil peran besar di dapur, di hari Minggu saya akan merencanakan sarapan dan bekal untuk dibawa suami ke kantor. Jadi persiapan utama adalah merancang, membeli bahan dan berdiskusi dengan Francis tentang pilihan sarapannya di pagi hari. Selain urusan makanan, saya juga mengecek dan mempersiapkan perlengkapan sekolah Francis agar ia bisa dengan mudah mengakses keperluannya di esok hari. Yang tak kalah penting adalah sebelum tidur, saya dan suami mengantarnya dengan peluk dan cium. Kami juga berdialog mengenai serunya kegiatan esok karena ia akan kembali bertemu dan bermain bersama teman-teman di sekolah. Saya ingin Francis punya rasa “excited” ketika menghadapi hari sekolah. Saya ajak Francis juga untuk merencanakan kegiatan setelah bangun pagi hingga apa saja yg hendak ia bawa ke sekolah.
Senin pagi suasananya hampir sama dengan hari-hari lain. Bangun pagi Francis akan bangun sendiri dan mencari ayah atau ibunya untuk dapat pelukan selamat pagi lalu dia akan mengambil waktu sendiri untuk bermain atau membaca buku sendiri. Di waktu ini biasanya saya sedang menyiapkan sarapan atau bekal. Setelah cukup bermain sendiri, Francis pun mandi dan bersiap dengan seragam sekolahnya. Sebelum berangkat, Francis akan sarapan lalu sikat gigi. Rutinitas ini hampir sama di setiap hari, jadi tidak sulit untuk Francis mengikutinya. Namun terkadang ada kalanya Francis masih ingin bermain lebih lama sehingga perlu diingatkan untuk segera mandi. Dalam hal ini, saya perlu terus mengingat untuk bernapas sebelum mengingatkan Francis. Terkadang karena kelelahan dalam persiapan makanan, saya seringkali masih terbawa emosi dalam memberi peringatan. Namun demikian, saya terus usahakan mengingat hal ini: “connection before correction”. Saya akan selalu prioritaskan punya hubungan baik sebelum memberi nasehat.