Emosi

Senin, 5 Desember 2022 – MOTyB

Hal yang paling luar biasa yang Francis miliki adalah kemampuannya mengungkapkan perasaan. Saya bersyukur punya anak laki-laki yang bisa menangis ketika sedih, tertawa lepas ketika bahagia, menunjukkan ekspresi yang tepat ketika takut, bingung, marah atau merasa jijik. Ia juga sudah mulai terampil mengutarakan perasaannya. Ia mampu menyampaikan kemarahannya atau kekesalannya kepada orang lain.

Kemarin ketika sedang berkunjung di mall, Francis langsung mengutarakan keinginannya untuk makan siang. Karena masih agak pagi, saya dan suami belum ingin makan. Akhirnya saya temani Francis untuk makan makanan kesukaannya di food court. Sesampainya di gerai makanan tersebut, Francis malah minta makanannya dibungkus untuk dimakan di rumah neneknya. Saya agak kesal karena untuk menuju tempat makan ini perlu waktu yang cukup lama dan jadinya kita juga tidak makan bersama-sama bertiga sebagai keluarga. Saya utarakan ke Francis bahwa saya kesal dengan permintaanya. Ia terlihat sedih lalu terdiam. Saya lalu memberi pengertian bahwa neneknya masih keluar dan tidak ada di rumah, baru sore beliau ada di rumah. Jadi kita baru sore hari akan mampir ke rumah neneknya. “Kalau Francis sudah lapar, baiknya kita makan dulu sekarang disini, Ibu temani”, jelas saya. Akhirnya Ia setuju dan kami membeli bakmi kesukaannya.

Saat makan, saya ajak Francis berdiskusi soal perasaannya. “Tadi Ncis sedih ya?” mulai saya. “Iya, Ncis kan pengennya makan di rumah Uti”, seru Francis. “Iya, nanti sore kita makan lagi di rumah uti ya, sekarang kan kamu lapar jadi makan dulu. Ibu juga minta maaf ya, tadi membuat kamu merasa sedih atau takut. Ibu kesal tadi sama permintaan Ncis.” Francis lalu langsung memberikanku sebuah pelukan hangat. Wajahnya berubah menjadi lebih senang dan ia pun jadi bersemangat menghabiskan bakmi kesukaannya.

Sebagai orang tua yang punya kesibukan dan pekerjaan, seringkali kelelahan membuat saya mudah terpicu amarah. Saya belajar untuk bernapas sebelum bereaksi terhadap perilaku atau perkataan Francis. Belajar untuk tidak reaktif dan lebih “mindfull”, terlebih lagi saat bersama Francis. Saya ingin Ia mengingat saya sebagai Ibu yang mendengar perkataan dan perasaannya. Bukan sebagai Ibu yang memaksakan perkataan dan perasaan saya sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *