Diskusi tentang Emosi

Emosi Francis dalam 2 hari ini nampaknya biasa-biasa saja, tidak ada yg berlebihan. Hal yang paling menarik terkait perkembangan emosinya adalah kemampuannya menyampaikan emosi. Aku melihat ia sudah mulai mampu mengekspresikan emosi dengan cukup baik.

Hari Rabu pagi, saat kami masih di Bali, aku harus kembali ke Jakarta untuk kembali bekerja. Sedangkan, Francis, ibu dan oma opanya masih di Bali, untuk kemudian lanjut ke Banyuwangi dan pulang ke Jakarta. Saat kami mau berpisah, ia nampak sedih dan bilang “Ncis nggak mau ayah pulang duluan,”. Ketika aku naik mobil menuju bandara, ia juga terlihat sedih.

Hari Sabtu, akhirnya kami berkumpul. Saat jumpa di bandara, kami langsung berpelukan. Terasa pelukannya erat sekali, seakan menandakan rasa rindu berjumpa. Hari Minggunya ia berkata,”Ncis mau ke rumah Elven (sepupu Francis). Ncis kangen.” Dan akhirnya kami pergi ke rumah Elven yang tinggal bersama ayah dan ibuku.

Satu hal yang ingin kuperbaiki adalah saat kami berdua sedang kesal. Francis termasuk yang keras pendiriannya jika sudah menginginkan sesuatu. Begitu juga aku yang tidak bisa mengabulkan keinginannya. Akhirnya ia pun menangis dan aku jadi kesal. Namun aku senang, karena ketika sudah time out, kami akhirnya bisa ngobrol dan meminta maaf.

Selain itu, ia juga sudah bisa mengutarakan kekesalannya, misalkan saat ia mengajakku jalan ke arah sini, tapi aku justru berjalan ke arah sana. Ia bilang padaku, bahkan beberapa kali jika aku tidak segera meresponnya. Jika aku bisa lebih mindful mendengarkan keinginannya, tentu akan lebih baik. Dan akan lebih baik lagi jika kami saling mendiskusikan harapan dan menemukan jalan tengah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *