Kami tinggal di area Jagakarsa. Bisa dibilang kami tinggal di area perkampungan, karena bukan di area perumahan atau cluster ekslusif. Oleh sebab itu, di area rumah kami, kondisi warganya cukup beragam; seperti dalam sosial ekonomi maupun agama. Lebih luas lagi, keberagaman tersebut merupakan gambaran Indonesia secara umum.
Karena kondisi keragaman tersebut, kami berharap Francis memiliki pengalaman berinteraksi dengan orang-orang dari beragam latar belakang, misalkan bermain dengan anak seusia di sekitar rumah. Hal tersebut juga yang membuat kami memutuskan menyekolahkan Francis di Tetum Bunaya. Kami berharap Francis bisa berinteraksi dan memiliki sahabat karib dari berbagai latar belakang.
Ketika berinteraksi atau berkomunikasi, satu hal yang aku perhatikan dari Francis adalah keinginannya untuk dominan. Ia sering mengajak, meminta atau mengarahkan teman-temannya. Aku yakin ini adalah salah satu benih kepemimpinan. Namun di sisi lain, mungkin tidak semua temannya nyaman dengan hal tersebut, sehingga ada potensi konflik antara Francis dan teman-temannya.
Setelah masuk SD, dan makin berkembangnya keterampilan psikososial Francis, kami berharap ia akan dapat lebih mengaktualisasikan benih-benih baik tadi, namun dengan cara yang empatik. Ia tetap bisa menyalurkan bakat tersebut namun tetap berusaha memahami perasaan atau pikiran teman-temannya pada saat itu.