kuputuskan, untuk mengambil jalur lain. mungkin kau akan sedih, namun bukan itu jalanku. [jika aku masih punya] hatiku tidak ingin menuju kesana, karena itu lebih baik ku berpindah arah saja dan menapak di jalur lain.
kepalaku, layaknya meja tempat pemimpin dunia berdebat, memaksakan ideologinya. ia bicara tentang itu, dia bicara tentang ini; silih berganti, hingga terdengar ricuh. tubuhku, adalah korbannya! medan pertempuran; babak belur sana sini, seperti tentara terbentur bebatuan. berdarah atas bawah, ibarat tertembak lawan perang. ketegangan di tiap sendi, mirip cemas menunggu musuh datang.
aku tak butuh celotehanmu! telingamu, hatimu saja, sudah cukup. hanya dengarkanlah aku! dengarkanlah deritaku, pahamilah jejaring pikiranku. mengertilah! mulutmu, hanya akan jadi pedang yang menusukku! kebutuhanku akan tercukupi, tanpa perlu kata bijakmu. sebab, cukup hati yang mendengarkan, jadi keperluanku.
apa yang kurasa malam ini, semua yang kupikirkan di saat yang sama, apakah sebuah kebenaran? ataukah, hanya sebuah benteng kokohtebal, tempat aku bertahan dari serbuan kecemasan?
ada makna-makna yang kupahami, ketika kulihat matamu di senja itu : ketika kau bangun dari dudukmu, membuka senyum, berkata salam padaku dan menanyakan kabarku. Kumaknai begini : seperti ada yang ingin kau sampaikan. namun entah, dinding apa yang menghalanginya. sepertinya ada kalimat yang hendak kau katakan padaku, tapi terhambat dan tertahan dalam hatimu saja.