Kaca-kaca di matamu tampak seperti akan segera pecah, didorong dorong dan dibentur bentur oleh kesedihan yang tak lagi mampu tertampung di hati. — Kataku : lihatlah bintang, kawan. Karna gugusan sinarnya, niscaya, hanya airmata gembira yang akan terurai di wajahmu.
Oh, sayang sekali.. Anda saja aku bisa menggambarkan dan menyampaikan keriangan dalam hatiku ini padamu; benar sesuai yang kurasa. Tentu hidup tak akan seberat yang kau kira kini.
Dari keran yang lupa kau tutup mengucur begitu derasnya air bening, lagi segar. Suara kemarahan pun tak pelak lagi jadi santapanmu. “Membuang-buang air!” Seru mereka. — Namun, tak jauh dari tempatmu tertunduk takut; terancam, sekelompok akar tengah menari menyambut sang penghilang dahaga; sang pembawa kehidupan, beriringan menuju arahnya. Dan serentak mengucap syukur atas pemberianmu.