Ngobrol Bersama Francis

Saat ini Francis sudah menginjak usia 5 tahun. Ia sudah lancar dalam berbicara; khususnya saat menceritakan pengalaman yang menyenangkan dan juga saat mengutarakan keingintahuannya. Namun obrolan paling mengharukan justru muncul bersama pengalaman yang kurang menyenangkan.

Akhir-akhir ini Francis sedang menikmati asyiknya jalan-jalan dengan kendaraan umum, mulai dari commuter line, bus Transjakarta hingga kereta MRT. Sepulang sekolah ia meminta ibu untuk naik semua kendaraan itu. Alhasil dalam beberapa hari terakhir mereka berdua jalan-jalan dari Stasiun UI hingga Stasiun Dukuh Atas, lalu lanjut naik bus Transjakarta, lalu lanjut naik MRT hingga kembali ke Stasiun UI.

Setelah bertemu denganku, Ia akan bercerita perjalanannya; naik ini, naik itu, makan di sini, stasiun ini stasiun itu; dengan nada kesenangan. Ia juga cerita ke oma dan opanya lewat video call. Dan jika sedang bertemu yangti dan yangkung (sebutan untuk ayah ibuku), Ia akan menceritakan pengalamannya lagi. Ia bahkan mengajak sepupunya untuk ikut jalan-jalan di lain kesempatan.

Selain cerita pengalaman, Francis juga sering bertanya, mulai dari pertanyaan faktual yang mudah dijawab hingga pertanyaan filosofis yang membuat kami bingung. “Kita mau pergi ke mana? Sekarang hari apa?” hingga pertanyaan semisal, “Kenapa Tuhan kasih Ncis jadi anak ibu?” Nah loh, kami kebingungan menjawabnya.

Namun obrolan paling mengharukan justru muncul saat kami sedang marah. Misalnya, saat ini Ia sedang sulit sekali diminta untuk mandi. Jika sudah menjelang malam, dan kebetulan aku sedang capek selepas kerja, semua jadi muda marah. Ia makin enggan mandi, dan akhirnya aku pun marah. Pernah suatu kali, Ia akhirnya mau mandi namun sambil menangis.

Setelah mandi Francis mendatangiku, “Ayah, Francis minta maaf karena tadi marah-marah. Francis sedih kalau ayah marah.”

“Ayah juga minta maaf karena marah-marah. Tadi ayah marah karena Francis tidak mau mandi,” begitu jawabanku.

Lalu kami berpelukan dan bermain kembali. Hati terasa hangat setelah itu. Aku jadi menyesal karena mudah marah. Mungkin menjadi orang tua adalah pembelajaran seumur hidup. Jika hari ini tidak berhasil, besok coba lagi dan lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *