Literasi di Rumah

Sejak kecil aku cukup dekat dengan literasi. Saat SD, tiap makan selalu sambil membaca, meskipun hanya baca komik silat. Saat kuliah, mulai menyukai literasi karena mulai memiliki komunitas yang juga suka membaca. Tahun 2005 di akhir masa kuliah, pertama kali aku menulis di blog ini, setelah sejak SMP menulis di buku. Setelah itu mulai aku mulai bergabung dengan komunitas penulis, dan mulai merambah di bidang kepenulisan; meskipun belum menjadi profesi penuh waktu. Pekerjaan di kantor pun juga menuntutku untuk dapat menyampaikan sesuatu baik secara lisan, tulisan maupun visual.

Keterampilan yang sama ingin kuperkenalkan dan kutumbuhkan pada Francis. Hal pertama yang kami lakukan adalah mengenalkan buku sejak kecil. Di rumah pun ada rak buku besar yang berisi buku. Aku juga mengusahakan menampilkan kebiasaan membaca di depan Francis, meskipun hanya membaca komik atau majalah atau buku teks.

Akhir-akhir ini kami mulai sering membacakan cerita sebelum Francis tidur. Kami juga mulai ajak ke toko buku, pameran buku dan aktivitas sejenis. Nampaknya Francis juga merespon dengan baik. Ia terlihat sering meminta dibacakan buku atau secara sukarela membaca sendiri. Aku dan istri juga sering ngobrol dan berdiskusi di depan Francis. Kami juga mengajaknya untuk ikut menceritakan yang dialaminya. Harapan kami adalah ia juga dapat menceritakan yang dialaminya, atau mampu mengekspresikan emosinya secara lisan atau tertulis.

Sejauh pengamatanku, mungkin Francis perlu dikembangkan untuk menyampaikan cerita dengan runtut. Kadang saat bercerita, Francis masih agak terbata-bata, seperti sedang mencari kata-kata yang tepat. Selain itu, Ia juga perlu dikenalkan dengan buku dengan teks yang dominan. Selain itu, kemampuan motorik halus dalam menulis juga masih perlu dikembangkan. Tulisan Francis masih nampak berantakan, meskipun dapat dibaca.

Harapanku, saat masuk SD nanti, Francis dapat mengembangkan keterampilan-keterampilan tadi. Ia mampu menulis, membaca dan menyampaikan sesuatu dengan baik. Hal terpenting adalah ia suka dengan kegiatan-kegiatan tersebut, dan tidak hanya menganggapnya sebagai tugas di sekolah, namun merupakan bagian dari identitasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *