Ibadah: Aksi Bukan Ritual

Sebagai pengikut Kristus, kami belajar bahwa ibadah sejati adalah tindakan nyata untuk mengasihi. Tentu ada ritual keagamaan yang kami lakukan seperti berdoa, membaca kitab suci serta turut dalam persekutuan jemaat di gereja. Namun demikian, ajaran utama dari Kristus adalah kasih. Maka kami percaya mempraktekkan kasih di rumah dan di lingkungan sekitar perlulah jadi fokus utama kami.

Francis sedari kecil sudah terbiasa diajak untuk berdoa. Ia mendengar doa pertama kali ketika ia lahir, Doa Bapa Kami. Sejak ia mulai bisa berbicara, kami mengajaknya untuk memimpin doa. Doa anak balita tentu lebih sederhana tapi seringkali paling menyentuh. Kami pun mengajarinya bahwa doa adalah sarana ia untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Jika ia sedih atau takut, ia bisa sampaikan pada Tuhan. Ia pun berdoa ketika takut saat hendak pergi ke dokter gigi ataupun ketika ada badai besar di luar rumah. Ia juga sering mendoakan saya, saat saya mengutarakan ketakutan saya padanya. Rasanya hati ini hangat sekali mendengar ia berdoa.

Saat hendak berangkat menuju suatu tempat, kami pun terbiasa berdoa terlebih dahulu. Francis lah yang biasanya memimpin kami semua dalam doa. Doanya sederhana, “Tuhan kami mau pergi ke sekolah/pasar/tempat bermain, lindungilah. Amin.” Ia pun cukup sering menambahkan kalimat, “semoga pandemi cepat berakhir” dalam tiap doanya. Kami percaya, iman anak kecil ini begitu besar sehingga saat ini doanya mulai Tuhan jawab. Kami percaya, Tuhan mendengar doa tulus dari Francis yang ingin kembali beraktivitas normal seperti dahulu lagi.

Untuk kegiatan persekutuan di gereja, saat ini sangat dibatasi untuk bisa dihadiri oleh anak-anak dan lansia. Oleh karena itu, Francis yang biasanya mengikuti Sekolah Minggu di gereja sekarang mengikutinya dalam bentuk online. Kami bersyukur, ia masih tetap mendapat komunitas dan stimulasi yang bisa membangun imannya dan membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih mengasihi lagi.

Pada masa persiapan paskah ini, Francis yang kemampuan kognitif dan emosinya makin berkembang pun tampak makin menghayati teladan Yesus. Ia tampak senang membaca buku mengenai kisah penyaliban dan kebangkitan Kristus. Ia juga semakin kritis dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan seputar peristiwa Paskah.

Sebagai seorang kristiani, kami juga ingin agar Francis tidak hanya belajar mengasihi tapi mempraktekkannya. Syukurlah pada masa pra-paskah ini, dipandu dari sekolah minggu dari gereja, Francis mendapat tugas untuk berbagi. Ia diminta untuk membuat puding coklat bersama dengan Ibu lalu membagikannya pada orang-orang yang akan berbuka puasa. Senang sekali ada kesempatan juga Francis belajar untuk bertoleransi pada umat beragama lain. Ia pun mengetahui bahwa ia tidak hidup di lingkungan yang homogen dan rasa saling menghargai serta saling menolong perlu diutamakan.

MYOTB Day 7

Jumat, 17 April 2022

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *