Hand-Face Changer

*tulisan ulang sebuah notes di Facebook Tak sedikit teman yang berkomentar tentang wajahku. Kata mereka, wajahku begitu-begitu saja; datar-datar lah, tanpa ekpresi lah, ini itu lah. Oleh sebab itu, Aku terbakar semangat untuk menciptakan sebuah alat supra-canggih, yaitu pengubah wajah portable atau kusebut dia dengan nama hand-face changer (H-FC). Prinsip dasar alat ini adalah mengubah wajah seperti tampilan emoticon. Untuk […]

Read more

Aku, Dahulu Hingga Hari Ini

Aku. Dahulu. Pernah merindukan kamu. Mengingat-ingat senyumanmu. Mengulang-ulang gerak lambat tawa khasmu. Atau sekedar membaca kembali tulisan tanganmu. Aku. Tak lama lalu. Pernah merasakan sembiluan karena keputusanmu meninggalkanku. Katamu, kita tak akan pernah berhasil. Katamu, tak ada guna jika lanjutkan jalan berdua. Sampai akhirnya kamu kembali kepadanya. Aku. Tak sampai sebulan lalu. Telah menetapkan untuk menerima kepedihan itu. Ia bagian […]

Read more

Nikmatnya Segelas Air

Aku berhenti dari lariku dan duduk di kursi peron. Terengah-engah. Punggung dan dada kemeja penuh bercak keringat. “Sia-sia aku ngebut dari rumah!” Pukul 12-an aku keluar dari gang rumah di kawasan Utan Kayu. Siang ini aku ada kuliah di Depok jam 13.00. Metro Mini jurusan Kampung Melayu segera kuhentikan, begitu lewat di depanku. Penuh. Sumpek. Wangi minyak menyengat sampai ubun-ubun, […]

Read more

Awan Mendung dan Panas Mentari

Awan mendung berduyun-duyun, dengan gagah sekaligus menyeramkan, mulai menutupi wajah suatu negeri antah berantah. Namun, satu di antaranya berwajah masam. “Ayah, aku tak pernah suka jadi awan mendung!” kata segumpal awan mendung kecil. “Mengapa tak suka, nak?” “Lihat saja. Penduduk di bawah sana pasti langsung menghindariku. Tak ada yang mau main denganku. Kita ini selalu membawa ketakutan; bahkan bencana!” “Tapi […]

Read more

Minus Dua dan Nol

Angin berhembus semilir menggoyangkan rerumputan. Nyamuk-nyamuk mulai keluar dari sarangnya, siap mencari mangsa. Matahari siap tertidur “Mengapa Aku ada sih?” tanya Minus Dua pada angka Nol. Nol diam saja sembari mencondongkan diri ke arah Minus Dua. “Aku tak habis pikir mengapa Ia memilih memakai namaku?” ditunjukknya seorang wanita usia hampir-20 tahun yang kini jadi tuannya. “Yang Aku tahu, Ia selalu […]

Read more

Titik Hujan, Tikus Tanah & Air Putih

Awan kecil sudah merelakan diri menjadi bagian dari bumi. Ia pun menitis menjadi hujan dan menyatu dengan tanah. Tapi betapa kecewanya ia ketika tahu apa yang ditemuinya disana. Perlahan ia menyusupi rongga-rongga tanah. Tak ada yang akan menghentikan niatnya kini. Namun tiba-tiba ia tertumbuk, semacam tembok berwarna putih. Bentuknya bulat dan berdinding. Kini awan kecil yang sudah menjadi titik hujan […]

Read more

Awan Kecil & Burung Jalak

Awan kecil siap menitik menuju tanah ibunya. Ditengoknya kembali langit dan ayahnya yang bergantung di sana. Ayah tersenyum bangga. Namun awan kecil merunduk dalam ketidakrelaan. “Aku masih ingin di langit. Bercanda dengan angin. Dikelitiki petir. Untuk apa aku mesti berjumpa dengan bumi?” Ia pun makin meluncur ke bumi dan makin tak ikhlas. — Tiba-tiba seekor burung jalak ikut menukik di […]

Read more

Awan Kecil

“Ayah, nanti aku mau jadi awan terus ya?” sambil berputar kesana kesini bersama angin. Ayah hanya tersenyum mendengar tingkah polah awan mini di sampingnya. “Di sini enak. Aku bisa lihat semua makhluk bumi. Atap pepohonan. Liukan sungai. Indah sekali mereka ya. Aku suka!” Ayah mengusap kepala anaknya dengan lembut. – Sampai suatu waktu. “Ayah, badanku kok makin berat ya? A..a..aku […]

Read more

Berpisah Dengan Mentari

Ombak kecil bergantian memasuki garis pantai. Bergulungan. Merayap menuju pantai, lalu hilang. Datang lagi segulung dan hilang kembali. Kalau dilihat-lihat ibarat pungguk yang tak berhenti mendatangi bulan, meski sudah berkali-kali gagal mencoba. Kakiku yang menghalangi jalan mereka pun tak membuat mereka menyurutkan perjuangan. Aku lalu kembali berjalan. Di Barat, perlahan-lahan mentari siap beranjak menuju peraduannya. Warnanya yang lembayung berpadu cantik […]

Read more

Senja Remang-remang

“Papa, apakah kau sungguh akan pergi?” “Mama, aku baru saja pulang kerja. Masih capek. Kenapa ditanya macam-macam sih?” sambil berlalu menuju kamar tidur. “Mengapa, pa? Mengapa?” aku pun mengikutinya. Dia tak menjawabku. Sambil melepaskan dasi dan kemeja, dia menuju ranjang kami dan duduk disana. “Tekadku sudah bulat. Aku akan pergi dan tak kembali lagi,” katanya. “Kau tak lagi peduli padaku? […]

Read more